Kisah Dua Pemuda Asal Indrapura, Dari Penjual Es dan Kue hingga Menjadi Tokoh Nasional

JAKARTA I Siapa sangka, dua pemuda asal Indrapura yang dahulu menjalani kehidupan sederhana sebagai penjual es lilin (Ganepo) dan penjual kue, kini mampu menorehkan prestasi hingga diperhitungkan di tingkat nasional.

Kisah perjalanan hidup Dr. Ilhamuddin Qosim, MA dan H. Janmat Sembiring, SE menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan kerja keras, doa, ketekunan, serta dukungan orang tua dan masyarakat, keduanya berhasil mengukir kesuksesan di perantauan.

Ada sebuah peribahasa Melayu yang dahulu sering terdengar, “Niat hati nak memeluk gunung, tapi apo dayo tangan tak sampai.” Maknanya, seseorang boleh memiliki cita-cita yang tinggi, namun harus menyadari keterbatasan diri dan kemampuan dalam mencapainya.

Dalam perjalanan hidup, cita-cita memang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Banyak rintangan, tantangan, bahkan kegagalan yang harus dilewati. Namun, ketika seseorang tetap berusaha, tidak mudah menyerah dan senantiasa memohon pertolongan Allah SWT, jalan menuju keberhasilan akan selalu terbuka.

Hal tersebut tergambar dalam perjalanan dua sahabat asal Simpang Tanjung Kubah, Kelurahan Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara ini.

Pada era 1970-an, Dr. Ilhamuddin Qosim, MA, adik dari Mualim Putih dan putra almarhum Ustaz Qosim dan almarhumah Hj. Nursiah, membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue. Kehidupan sederhana tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita.

Kini, Dr. Ilhamuddin Qosim telah menjadi Guru Besar di Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Ia juga dipercaya sebagai Dewan Hakim MTQ Nasional serta dikenal memiliki kiprah dalam bidang Al-Qur’an dan pendidikan Islam.

Sementara itu, sahabatnya, H. Janmat Sembiring, SE, semasa kecil juga menjalani kehidupan sederhana dengan berjualan es Ganepo keliling di sekitar Kota Indrapura.

Dari kehidupan sederhana tersebut, Janmat Sembiring terus menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya sukses di perantauan dan kini dipercaya sebagai Staf Khusus Menko Polkam RI.

Keduanya merupakan putra daerah yang sejak kecil telah bersahabat dan tumbuh bersama di Simpang Tanjung Kubah, Indrapura. Perjalanan hidup yang dimulai dari kesederhanaan tersebut akhirnya membawa mereka ke Jakarta dan membuka jalan bagi keduanya untuk berkiprah di tingkat nasional.

Janmat Sembiring merupakan putra almarhum H. Muhammad Matut Sembiring dan almarhumah Hj. Halimah Tambul br. Bangun.

Sementara Dr. Ilhamuddin Qosim juga berasal dari keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan sosial keagamaan. Orang tuanya turut mendirikan Panti Asuhan Anak Yatim Al-Ikhlas di Indrapura.

Perjalanan pendidikan Dr. Ilhamuddin hingga meraih gelar doktor juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Menko Polkam RI Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago dan Staf Khusus Menko Polkam RI H. Janmat Sembiring.

Dr. Ilhamuddin juga dikenal sebagai bagian dari keluarga yang memiliki perhatian terhadap pengembangan ilmu Al-Qur’an. Adiknya, Muhammad Nur Al Fadil, dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur’an, ahli hadis, serta hafiz Al-Qur’an dan Ketua Lembaga Tahfiz di Universitas PTIQ Jakarta.

Bagi Janmat Sembiring, keberhasilan yang diraih bersama sahabatnya bukan semata-mata karena kemampuan pribadi, melainkan tidak terlepas dari ridho Allah SWT dan doa orang tua serta masyarakat.

«“Alhamdulillah, kesuksesan kami berdua di perantauan berkat doa-doa terbaik dari seluruh warga Batu Bara pada umumnya dan warga Indrapura, Kecamatan Air Putih, khususnya,” ungkap H. Janmat Sembiring.»

Ia mengatakan, kehidupan masa kecil yang penuh kesederhanaan justru menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.

«“Di kampung halaman kami sama-sama menjalani pahitnya kehidupan masa itu. Setelah sukses di Jakarta, kami juga tetap bersama,” ujarnya.»

Menurutnya, persahabatan yang telah terjalin sejak kecil tidak berhenti ketika keduanya berhasil mencapai kesuksesan. Mereka tetap berusaha memberikan perhatian kepada masyarakat, khususnya anak yatim dan kaum dhuafa, baik di kampung halaman maupun di Jakarta.

Kisah dua sahabat ini menjadi bukti bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih masa depan. Dari berjualan kue dan es Ganepo di Indrapura, keduanya kini mampu mengukir kiprah di tingkat nasional.

Bagi masyarakat Batu Bara, perjalanan Dr. Ilhamuddin Qosim dan H. Janmat Sembiring menjadi inspirasi bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran, keberanian untuk bermimpi, serta doa yang tidak pernah putus.

“Mohon doa dari seluruh warga Batu Bara agar kami berdua senantiasa dapat berbuat yang terbaik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup H. Janmat Sembiring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *